Kreator Lokal, Dampak Regional
3 Hal tentang Regional Readiness yang Bisa Dipelajari dari @isawkwardguy
Di era algoritma lintas negara, konten nggak lagi berhenti di batas geografis. Satu video bisa masuk FYP Jakarta, KL, Manila, sampai Bangkok dalam waktu yang bersamaan. Tapi faktanya, nggak semua kreator lokal otomatis “siap regional.” Salah satu contoh menarik datang dari kreator Malaysia, @isawkwardguy, yang dikenal luas di Asia Tenggara lewat konten komedinya. Akun Instagram dan TikTok‑nya ramai dengan lelucon seputar negara-negara tetangga, mulai dari ASEAN hingga Asia Timur. Keberhasilannya menciptakan skit multi‑bahasa yang relatable menunjukkan bahwa konten lokal yang kuat dapat menembus batas wilayah. Berikut beberapa pelajaran yang bisa diambil oleh kreator Indonesia tentang kesiapan konten regional:
1. Berawal dari Lokal, Menembus Regional
Dari industri OTT, ada pembelajaran bahwa konten lokal yang punya penerimaan kuat di pasar asal punya peluang besar untuk menembus negara tetangga. Cerita‑cerita Thailand yang berhasil di pasaran domestik, misalnya, sering menembus peringkat teratas streaming di Indonesia dan Filipina. Ini menandakan bahwa sebelum bermimpi viral se‑ASEAN, kreator harus membangun basis di rumah sendiri dengan memahami nilai, humor, dan konteks lokal. @isawkwardguy juga demikian: skit‑nya tentang antrian dan kejanggalan sosial di Malaysia banyak ditonton di Indonesia karena nuansa canggung itu universal. Vero dalam laporan “Newsfluencers” mengamati bahwa satire Thailand dan komentar warga Indonesia sering menular ke negara tetangga berkat adanya kesamaan humor, budaya serta algoritma yang mendorong narasi itu menyebar dalam hitungan jam. Kesimpulannya, fokuskan konten pada cerita otentik yang terasa dekat dan punya “emosi universal” – misalnya rasa sungkan, malu, atau tawa saat menghadapi birokrasi.
2. Kuasai Bahasa dan Budaya, Bukan Sekadar Terjemahan
Asia Tenggara memiliki beragam identitas yang unik. Setiap negara berbeda dalam bahasa, budaya, tingkat pendapatan, hingga psikologi market; apa yang berhasil di satu pasar bisa gagal total di pasar lain. Pengalaman Uber dengan pendekatan “copy‑paste” dari AS ke Asia Tenggara membuktikan narasi yang terlalu agresif tidak cocok; karena audiens di kawasan ini cenderung lebih menyukai storytelling hangat dan komunal. Karenanya, kreator harus memikirkan lokalisasi lebih dari sekadar mengubah bahasa, namun juga menyesuaikan referensi budaya, humor, dan nilai. @isawkwardguy melakukan ini dengan amat fasih: ia memasukkan kata‑kata slang Melayu, Singlish, bahasa Indonesia, dan referensi pop masing‑masing negara. Ia sendiri mengatakan jarang menulis script; improvisasi membantunya meniru intonasi khas setiap bahasa dan berinteraksi secara natural. Hasilnya, audiens dari Malaysia, Indonesia, Singapura hingga Filipina merasa “oh, ini sungguh familiar.”
Untuk kreator Indonesia, mencoba multi‑bahasa bukan berarti harus fasih sempurna. Hal pentingnya adalah peka terhadap nuansa: kapan memakai istilah lokal, kapan memparodikan logat negara lain dengan santun, dan bagaimana menyeimbangkan humor tanpa menyinggung-yang mana menjadi salah satu keunggulan @isawkwardguy. Statistik juga menunjukkan banyak mikro‑influencer Malaysia meraih engagement tinggi karena mampu membuat konten dalam berbagai bahasa, sehingga terasa personal bagi berbagai segmen. Kiat ini sangat berpotensi untuk diaplikasikan di Indonesia yang kaya dengan budaya daerah; di mana kreator yang mampu bercakap dalam Bahasa Indonesia, Jawa, atau sedikit Melayu dapat menjembatani audiens Nusantara dan tetangga.
3. Bangun Jaringan dan Kolaborasi Lintas Negara
Menjadi “regional ready” bukan perjalanan solo. Vero mencatat bahwa satire Thailand memicu diskusi di Malaysia dan Filipina sementara komentar warga Indonesia memancing dialog di diaspora ASEAN. Ini terjadi karena algoritma cenderung mendorong konten yang banyak dibicarakan ke negara tetangga. Selain memanfaatkan algoritma, kreator bisa secara proaktif membangun jaringan. Inisiatif bekerja sama dengan banyak mikro‑kreator yang memiliki komunitas niche seperti duet TikTok, cameo, atau video reaksi antar‑negara bisa memperluas jangkauan ke audiens baru sembari memberikan validasi dari sesama rekan kreator. Ini juga yang menjadi alasan di balik pendirian CASA; yaitu ingin mendorong keterhubungan dengan komunitas ASEAN yang lebih luas agar kreator lokal punya akses ke jaringan regional. Bagi kreator Indonesia, bergabung atau mengikuti kegiatan sejenis bisa menjadi jalan untuk belajar best practice, memahami standar industri, dan memperluas jejaring. Kolaborasi bukan hanya mempermudah ekspansi, tetapi juga meminimalkan risiko salah kaprah budaya.
Kesiapan regional berarti membangun fondasi lokal yang kuat, memahami perbedaan budaya, dan berani keluar dari zona nyaman dengan kolaborasi kreatif.
Di tengah creator economy yang sedang bertumbuh pesat, siapa pun bisa mengupayakan untuk menembus batas-batas kawasan tersebut; asal mau belajar, berkolaborasi, dan tetap memiliki karakter otentik.

